Al-Qur’an Dalam Ritual Kesehatan

thumbnail

islamasyik.com

“Islam Itu Asyik Tapi Jangan Diusik.
Islam Itu Ramah Tapi Tidak Lemah.
Islam Itu Mudah Tapi Jangan Dimudah-mudahkan.”

Qira’ah dan atau filawah tidak akan bertahan jika tidak di- praktikkan dalam perbuatan. Dan ini menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Islam di mana-mana. Al-Qur an secara mutlak sa-
ngat esensial dalamibadah setiap muslim. la menjadi hidup melalui berbagai cara, hanya firman Tuhan yang turun kepada Muhammad langsung kemudian dikodifikasi dalam bentuk (tertulis) di masa Ustman bin Affan – yang dimaksudkan ayat suci Al-Qur’an itu, bukanlah firman Tuhan yang secara oral dan verbal diucapkan oleh Nabi Muhammad saw. yang disebut sebagai hadits
qudsi.

Sifat ketidaktarndingan (i’jaz) kata terucap secara lisan dalam ibadah setiap muslim menjadikannya berbeda dengan kitab suci lain. Al-Qur’an sebagai teks dibaca dalam kegiatan shalat dan zikir, bahkan secara hafalan di luar kepala. Karena tradisi ini membiasakan setiap muslim harus membacanya – surah-surah pendek dan tidak merasa bosan membaca dan melafalkan Al-Qur’an sebab merupakan ibadah yang sangat disukai kapan pun.

Sementara itu kebajikan khusus dibawakan seorang Qori pembaca al-Qur an dengan tajwid) disertai alunan nada dan irama vokal yang menyejukkan. Juga menghafal Al-Qur’an merupakan bentuk lain mempertahankan kelestarian firman oral-aural Ilahi, di samping bentuk mushaf yang sudah ada. Mushaf sebagai al-
kitab (kitab tertulis) dalam kodifikasi yang dikerjakan Ustman bin Affan memberikan sumbangan besar dalam perkembangan qira’at
selanjutnya. Ditulisnya Al-Qur an dengan bantuan ilmu-ilmu resmi berikutnya ortografi, fonetik dan ilmu tajwid menyempurnakan bacaan (gira’ah dan tilawah) menyuburkan tradisi oralitas tersebut
Dan oralitas Kitab Suci umat Islam ini akan terus berlangsung tanpa putus karena sudah mengakar dan mendarah-daging dalam keseharian umat muslim di seluruh dunia sejak permulaan.

Peran aktif Al-Qur an sebagai firman oral-aural sudah meresap di kalangan kaum muslimin tidak saja dalam ritual, melainkan dalam keseharian. Baik secara keseluruhan ayat-ayat secara rutin
digelar dalam sema’an maupun ayat-ayat tertentu atau surat-surat pendek seperti al-fatihah, al-mu’awwidzatain sampai ayat kursi. Bahkan, potongan ayat terpendek seperti Bismillahirrahmannirrahiim Allhamdulillah, Masya’ Allah (al-Kahfi: 39), dan sebagainya menjadi
ucapan paling akrab dan biasa dalam kehidupan kaum muslimin.

disadur dari Buku Isalam Idealitas Islam Realitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top