Apa yang Diamalkan Nabi SAW Saat di Gua Hira’?

thumbnail

Gua Hira merupakan tempat merenung (tafakur) atau tahannus Nabi Muhammad. Ada selentingan pertanyaan apa yang Nabi Muhammad amalkan sebelum menjadi penyebar risalah (Islam).

“Saat tahannus apakah Muhammad menganut sesuatu syariat tertentu?” tulis Husen Haekal dalam bukunya Sejarah Muhammad.

Menurut Husen ulama-ulama beda  pendapat mengenai perkara ini. Diceritakan dalam Tarikh-nya Ibn Katsir bahwa sedikit pendapat-pendapat ulama tentang syariat yang digunakannya melakukan ibadat itu.

Menurut pendapatnya, “Ada yang mengatakan menurut syariat Nuh, ada yang mengatakan menurut Ibrahim, yang lain berkata menurut syariat Musa, ada yang mengatakan menurut Isa dan ada pula yang mengatakan, yang lebih dapat dipastikan, bahwa Rasulullah menganut sesuatu syariat dan diamalkannya.”

Pendapat terakhir mungkin lebih tepat ketimbang sebelumnya. Hal Ini sesuai dengan dasar renungan dan pemikiran Muhammad.

Saat tiba bulan Ramadhan. Beliau pergi ke Hira’, merenungkan kembali sedikit demi sediki bertambah matang, jiwanya pun semakin penuh.

Sesudah beberapa tahun jiwa yang terbawa oleh kebenaran tertinggi itu dalam tidurnya bertemu dengan mimpi hakiki yang memancarkan cahaya kebenaran yang selama ini dicarinya.

Bersamaan dengan itu pula dilihatnya hidup yang sia-sia, hidup tipu-daya dengan segala macam kemewahan yang tiada berguna,” katanya.

Pada sat itu Rasulullah percaya banyak orang-orang yang sesat, rohani mereka telah rusak karena tunduk kepada khayal berhala-berhala serta kepercayaan-kepercayaan semacamnya.

Semua yang sudah pernah disebutkan kaum Yahudi dan kaum Nasrani tak dapat menolong mereka dari kesesatan itu. “Apa yang disebutkan mereka itu masing masing memang benar,” katanya.

“Dan Kebenaran itu ialah Allah, Khalik seluruh alam, tak ada tuhan selain Dia,” katanya.

Kebenaran itu ialah Allah Pemelihara semesta alam. Dialah Maharahman dan Maharahim. Kebenaran itu ialah bahwa manusia dinilai berdasarkan perbuatannya.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat atompun akan dilihatNya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat atompun akan dilihatNya pula.” (QS Al Zalzalah 7-8)

Orang-orang yang menyekutukan Allah akan dimasukkan ke dalam neraka, tempat yang paling menyedihkan.

Source; republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top