Bolehkan Melakukan Aksi Demonstrasi Dalam Islam?

thumbnail

Ibu kota Jakarta sering didemo massa yang bertujuan unjuk rasa. Massa mendemo guna  menyampaikan apresiasi pendapatnya kepada para pejabat negara bahkan presiden.

Lantas dalam  aksi demonstrasi bagaimana islam menyikapinya?

Dulu pada zaman nabi belum ada istilah demonstrasi. Kalau dulu, aksi demonstrasi lebih cenderung dengan  pemberontakan karena adanya ketidak puasan rakyat atau golongan pada kebijakan penguasa yang zalim.

Aksi demonstrasi yang akhirnya ada tindakan anarkis baru muncul di masa kepemimpinan khalifah ketiga, Utsman bin Affan.  Utsman bin Affan dituduh melakukan nepotisme. Dan pada akhirnya Utsman wafat dalam peristiwa tersebut.

Ketika Nabi SAW Muhammad Didemo Jin Nashibin yang Minta Makanan pada Beliau

Menurut hukum Islam, aksi demontrasi sendiri adalah upaya dalam menasihati seseorang yang telah berbuat kemungkaran agar kembali kepada kebaikan, sebagai bentuk amar ma’ruf nahi mungkar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Alqur’an:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS.Ali Imran [3]:104).

Jika aksi demonstrasi tercover dalam bingkai amar ma’ruf nahi mungkar yang disampaikan pada penguasa dzalim, maka rakyat akan mengkritiknya dengan baik dan aman. Dalam prinsipnya  Islam tidak melarang seseorang dalam penyampaian nasihat amar makruf nahi mungkar secara terang-terangan, juga dalam aksi demonstrasi selama hal itu tidak bersifat anarkis dan destruktif.

Kisah Pemuda Curhat Pada Nabi, Pernah Zina Dengan Mayit Gadis dan Ingin Taubat. Ini Respon Nabi

Al-Hafidz at-Turmudzi dalam Kitab Jami’ nya meriwayatkan, Bahwa Rasulullah Saw bersabda :

أفضل الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر

“Jihad yang paling Afdhol adalah menyampaikan kalimat keadilan di hadapan penguasa yang dzalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011).

Dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi Al-Mubarokfuri menjelaskan bahwa hadits di atas dimaksudkan untuk menegakkan bendera amar makruf nahi munkar, perjuangan kebenaran dan melawan dan menumpas Kebathilan yang dilakukan penguasa dzalim. Pekerjaan itu adalah bentuk jihad yang paling mulia. Jihad itu dilakukan dengan lisan, ataupun tulisan seperti yang dijihadkan para wartawan.

Source: republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top