Inilah Ancaman Al-Qur’an Bagi Orang Yang Suka Nyinyir Dan Gosip

thumbnail

islamasyik.com

“Islam Itu Asyik Tapi Jangan Diusik.
Islam Itu Ramah Tapi Tidak Lemah.
Islam Itu Mudah Tapi Jangan Dimudah-mudahkan.”

Mencerca dan mencela adalah jelas perbuatan tidak terpuji, tapi mengapa orang masih suka? Al-Qur an dalam surah-surah Ali Imraan: 111, al-Maa’idah: 54, at-Taubah: 74, 79, Yuusuf: 31, 92, al-
Hujuraat: 11; dan al-Qalam: 11,30 berbicara soal sela dan cerca. Salah satunya Allah SWT berfirman, “Celaka berat, bag1 para penceTca dan pengumpat!” (al-Humazah: 1). Kebiasaan buruk tersebut agaknya meningkat belakangan ini baik di dalam pertemuan umum maupun melalui media massa dan menjadi semacam pekerjaan rutin insan
yang tipis iman. Simaklah omongan sebagian orang bila lepas kesibukan, selalu mengumpat
pepatah “Kuman di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk orang lain. Bak kata pepatah mengatakan, kuman di seberang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata sendiri tak ketahuan.”

Allah SWT berfirman dengan melukiskan dalam bentuk metafor, orang yang suka mencerca itu ibarat memakan daging muslim saudaranya sendiri. Dalam bersabda, “Seorang muslim (yang ideal) ialah yang sesama muslim selamat dari lidah dan tangannya.

Akhir-akhir ini media massa orang mencerca orang lain, bahkan sudah menjurus pada melanggar privasi seseorang sudah menjadi kebiasaan. Di tempat-tempat umum seperti di sekolah
kampus, kantor, dan lapangan orang cerca-mencerca, sampai- sampai mencela orang yang sudah meninggal. Karena mudahnya lidah mengucap, hingga cerca dan gosip seperti sesuatu yang lumrah disampaikan, Bahkan sebagian tanda keakraban, Atau ada yang bilang hal itu menunjukkan sikap yang kritis, Tentu saja itu
semua keliru.

Di zaman Nabi saw., perah ada sekelompok orang yang digerakkan kaum munafik sempat mencerca sahabat Rasul. Baginda pun lantas bersabda, “Jangan Anda cerca para sahabatku! Seandainya
Anda belanjakan harta sebesar gunung Uhud, niscaya amal Anda tak akan dapat mengalahkan para salabatku!” Kemudian dalam kesempatan lain
beliau berpesan, “Jika ada yang mencerca sahabatku katakanlah, Laknat Allah atas kejalatanmu!”

Pangkal gosip dan cerca adalah lidah.Diriwayatkan bahwa Lukmanul Hakim, seorang arif yang termasyhur itu pernah disuruh majikannya membeli daging yang baik untuk menjamu tetamu yang bertandang. Lukman membeli hati dan lidah, Sang majikan marah, bertanya, mengapa Lukman membeli hati dan lidah. “Tidakkah ini daging yang baik seperti tuan pesan. Sebab hati merupakan
sumber amal perbuatan yang baik, sedang lidah dapat menjalin persaudaraan. Dari keduanya orang dapat membangun kebajikan.”

Pada saat yang lain majikan memerintah Lukman membeli daging yang busuk, untuk diketahui, kiranya jenis daging apa yang akan dibeli Lukman. Ia pulang dari pasar membawa hati dan lidah
Tersentaklah majikan tersebut dan bertanya mengapa gerangan Lukman membeli daging yang sama, padahal disuruh membeli yang paling busuk. “Benar tuanku, ini daging terbusuk. Hati adalah
daging yang paling baik dan sekaligus juga paling busuk. Ia sumber kedengkian dan rasa congkak. Sekarang lidah merupakan ‘alat’ untuk melaknat, mencerca, dan mencari orang lain.”

Oleh karena itu, jagalah lidah kita dari perbuatan mencerca dan mencela yang dapat merusak segala amal kebajikan seperti api melahap kayu bakar. Bersihkanlah hati dari rasa dendam dan dengki,
sebab lidah merupakan cerminan gejolak hati. Bila hati bersih, lidah niscaya tidak akan bertutur kecuali yang baik. Sebaliknya bila hati
“tercemar”, lidah akan mudah berkata-kata yang buruk.

Disadur dari Buku Islam Idealitas Islam Realitas karangan Prof. Dr. H. muhammad baharun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top