Kisah Nabi Daud Dan Janda Anak 3 yang Mengklaim Allah Tidak Adil

thumbnail

islamasyik.com

“Islam Itu Asyik Tapi Jangan Diusik.
Islam Itu Ramah Tapi Tidak Lemah.
Islam Itu Mudah Tapi Jangan Dimudah-mudahkan.”

Diriwayatkan ada seorang perempuan menemui Nabi Daud
Perempuan itu berkata, “Wahai Nabi utusan Allah, Tuhanmu itu zhalim atau adil?
Nabi Daud menjawab, “Wahai engkau, Dia Mahaadil dan tidak pernah bersikap tidak adil.”
Kemudian Nabi Daud bertanya, “Ada apa denganmu?”
Perempuan itu menjawab, “Saya seorang janda, saya memiliki tiga anak perempuan. Saya membelanjai mereka dari hasil menenun kain. Ketika saya mengikat kain tenunan saya di dalam kain merah, saya akan ke pasar untuk menjualnya, saya telah menyatakan itu kepada anak-anak saya. Tiba-tiba ada seekor burung yang menghadang saya, burung itu mengambil bangkus dan kain tenunan itu. Ia pergi, tinggallah saya dalam kesedihan. Saya tidak memiliki apa-apa untuk membesarkan anak-anak saya.

Ketika perempuan itu sedang berbicara bersama Nabi Daud. Tiba Tiba ada yang mengetuk pintu. Nabi Daud mengizinkan masuk. Ternyata ada sepuluh pedagang, setiap satu orang membawa seratus Dinar.
Mereka berkata, “Wahai Nabi utusan Allah, berikanlah kepada orang yang berhak menerimanya.”
Nabi Daud berkata, “Apakah sebab mengapa kamu membawa uang ini?”
Mereka menjawab, “Wahai Nabi utusan Allah. Kami berada di perahu. Angin kencang menerpa kami dan kami nyaris tenggelam. Tiba-tiba ada seekor burung menjatuhkan kain bungkus berwarna merah kepada kami, di dalamnya ada kain tenun. Lalu kami gunakan untuk menyumbat kerusakan
perahu. Kemudian angin tenang dan kerusakan dapat diatasi. Kami bernazar setiap kami akan bersedekah seratus Dinar. Uangnya ada di hadapanmu. Berikanlah kepada orang yang berhak menerimanya.”

Nabi Daud menoleh kepada perempuan itu seraya berkata, “Tuhan telah berdagang untukmu di daratan dan lautan. Kemudian engkau nyatakan Dia sebagai zhalim.” Kemudian Nabi Daud memberikan seribu Dinar kepada perempuan itu seraya berkata, “Berikanlah kepada anak-anakmu.”

disadur dari buku Semua Ada Saatnya karangan Syaikh Mahmud Al-Mishri Penerjemah Ust Abdus Somad.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top