Menaruh Harapan Masa Depan Pada Peramal dan Dukun

thumbnail

Banyak orang yang masih percaya terhadap peramal dan dukun. Jenis ramalan tersebut berbeda-beda. Ada ramalan nasib, jodoh, karier dan zodiak.

Adapun hukum percaya terhadap ramalan menurut Cholis Nafis selaku Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI adalah haram.

Kamis (31/12), Cholis Nafis mengatakan, “Kita berharap memiliki masa depan yang cerah. Namun, meramal kehidupan hukumnya haram, karena tak seorang pun yang tau hal apa yang akan terjadi di esok hari. Rasulullah melarang terhadap ramalan-ramalan.”

Reaksi Pertama Kalinya Jin Mendengar Al-Qur’an yang Membuatnya Sulit Tembus ke Langit

Tahun baru kali ini, banyak di media sosial tentang ramalan-ramalan yang akan terjadi di masa depan. Baik ramalan itu berupa jodoh, angka keberuntungan, zodiak dan lain sebagainya.

Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menyarankan umat Islam agar memperkuat aqidah dan percaya terhadap takdir yang telah ditentukan Allah sejak masih berada di Lauhul Mahfuz. Takdir tersebut adalah apa yang sudah dijalani oleh umat manusia yang dapat di ubah dengan doa dan amal shaleh.

“Apabila kita mengetahui terhadap kebesaran dan kasih sayang Allah, maka kita akan berserah diri kepadanya. Tidak semua kehidupan penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan, ada kalanya berupa ujian. Seperti halnya ujian yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Yunus,” jelas Nafis.

Kisah Dukun yang Menantang Nabi SAW Tapi Akhirnya Bersyahadat di Depan Ka’bah

Sebagaimana tertuang dalam firman Allah SWT,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik dengan mempersekutukan Allah. Sesungguhnya perbuatan syirik adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman ayat 13).

Menurut Syaikh Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah, dzalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sedangkan syirik adalah menyamakam dzat Allah dengan yang lain.

Source: republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top