Seperti Inilah Pemimpin Berhati Setan Yang Digambarkan Hadist

thumbnail

islamasyik.com

“Islam Itu Asyik Tapi Jangan Diusik.
Islam Itu Ramah Tapi Tidak Lemah.
Islam Itu Mudah Tapi Jangan Dimudah-mudahkan.”

Akhir-akhir ini memang telah muncul banyak pemimpin, yang sungguhan maupun yang karbitan Yang serius maupun yang membingungkan. Yang istiqamah (konsisten) maupun yang mencla-mencle, yang ikhlas bernurani maupun “berhati setan”. Ttentang fenomena terakhir ini, telah dinubuwatkan Nabi saw. sebagaimana didokumenkan Muhammad bin Abu Bakar dalam kitabnya yang kondang al-Usfuriyah bab terakhir.

Diberitakan oleh Abdullah ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Pada akhir masa kelak akan lahir golongan (yang dipimpin) oleh mereka yang wajahnya manusia, tetapi hatinva
seperti setan. Mereka ibarat serigala buas yang tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali. Mereka suka menumpahkan darah dan gemar keburukan.”

Jika Anda mengikuti ajakannya, mereka akan mendekati dan membinamu. Sebaliknya, jika menjauhinya, Anda akan dicela bahkan dimusuhinya. Ciri-ciri lain: bila Anda memberinya amanat mereka berkhianat. Para remaja mereka suka ugal-ugalan di jalan, sedang orangtuanya bergelimang maksiat. Mereka tidak menyuruh
kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hukum (syariat) di tengah kelompok ini adalah bid’ah, dan sebaliknya bid’ah bagi mereka adalah sunnah. Sehingga, tatkala Tuhan membiarkan mereka
berkuasa, lantas ada sedikit yang saleh berdoa, sedangkan doanya pun tidak diterima.

Selaras dengan teks tersebut, lalu Muhammad bin Abu Bakar meriwayatkan melalui as-Syaikh Muslim al-Badani, bahwa Nabi pernah bersabda, “Akan datang suatu zaman, orang akan menganggap sunnahku sudah asing, kemudian mereka memunculkan bid’ah. Maka, barang siapa yang mengikuti sunnahku saat itu, mereka menjadi asing. Barang siapa yang mengikuti bid’ah mereka akan mendapat banyak pendukung.” Para sahabat bertanya, “Apakah mereka melihatmu ya
Rasul?” Nabi menjawab, “Tidak!” Mereka bertanya lagi. “Apakah turun wahyu kepada mereka?” kata Rasulullah, “Tidak! mereka seperti garam di dalam air. Hati mereka melelelt seperti garam di dalam
air.”Sahabat lain bertanya, “Bagaimana mereka hidup di masa itu? Sabda Nabi, “Seperti ulat di dalam cuka.” Lantas ada sahabat yang menukas, “Bagaimana mereka menjaga agamanya?” Bersabdalah Baginda Rasulullah saw.,”Mereka seperti memegang bara api, jika kamu letakkan padam, jika tersentuh niscaya membakar.”

Bagaimana kiat kita menghadapi fenomena zaman seperti iri Tentu saja jalan menuju selamat itu, tidak lain adalah sikap istiqomah dan selalu menjadikan Al-Qur an dan sunnah sebagai satu-satunya petunjuk meraih kebenaran dan keridhaan Allah. Sekaligus kita menjadikan kedua sumber syariat tadi sebagai pemisah atas yang
hak dan batil.

Di samping itu, harus ada kesadaran iman dari setiap individu muslim, bahwa Islam adalah kaffah, mencakup semua aspek kehidupan. Ini harus kita yakini sejak dini bila ingin menjadi
muslim yang baik. Juga, jangan terlampau berlebihan fanatisme pada pemimpin golongan. Ingat, idola setíap muslim itu adalah Rasulullah saw. yang kepemimpinannya hidup dalam ajaran yang kita anut.

disadur dari buku islam idealitas islam realitas, karangan Prof. DR. K.H. Tolchah Hasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top