Terjadinya Petir; Karena Gesekan Awan dan Bumi. Ini Kata Para Ilmuan dan Al-Qur’an

thumbnail

islamasyik.com

“Islam Itu Asyik Tapi Jangan Diusik.
Islam Itu Ramah Tapi Tidak Lemah.
Islam Itu Mudah Tapi Jangan Dimudah-mudahkan.”

Orang Islam meyakini bahwa petir bukan hanya peristiwa alam semata. Petir menjadi salah satu nama surah dalam Alquran, yaitu surat ke-13, ar-Ra’du. Ada tiga istilah dalam Alquran yang merujuk pada makna petir, yaitu ar-ra’du, ash-showa’iq, dan al-barq.

Para ahli tafsir mendefinisikan bahwa ar-ra’du lebih dekat memberi mkna dengan suara petir atau geledek. Dan ash-shawa’iq dan al-barq maknanya lebih dekat dengan istilah kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul beberapa saat sebelum adanya suara petir.

Bacalah: Yang Pacaran Pasti Tengkaran Yang Ta’arufan InsyaAllah Lamaran

Dr Muhammad Luqman As Salafi dalam Rasy Al-Barad Syarh Al-Adab Al Mufrod, menjelaskan menurut para ilmuwan, energi yang dilepas oleh sekali kilatan petir lebih besar dari pada energi yang dihasilkan seluruh pembangkit listrik di Amerika.

1 kilatan petir dapat menyalakan 100 watt bola lampu selama lebih dari tiga bulan. Di samping itu, petir juga menghasilkan molekul nitrogen yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan untuk menunjang kehidupannya.

Petir bergerak pada kecepatan 150 ribu km/detik, hampir setengah kecepatan cahaya dan 100 ribu kali lebih cepat dari kecepatan suara. Sedangkan, suara yang dilepaskan oleh satu kilatan lebih besar dari cahaya 10 juta bola lampu berdaya 100 watt.

Bacalah: Insyallah Syahid. Santriwati (13) Berstatus PDP Meninggal. Ini Histori Perjalanannya sebelum Meninggal

Para ilmuwan modern telah banyak meneliti kedahsyatan kilatan cahaya petir. Petir bagaikan kapasitor raksasa, lempeng pertama adalah awan yang beradu dengan lempeng kedua adalah bumi.

Menurut ilmuwan, petir juga bisa terjadi dari awan ke awan (intercloud), yaitu saat salah satu awan bermuatan negatif dan beradu dengan awan positif. Dan Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya.

Dan Proses terjadinya muatan pada awan karena bergerak terus-menerus dengan teratur, dan selama pergerakannya akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan awan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan awan positif berkumpul pada sisi sebaliknya.

Bacalah: Ibu Ini Positif Corona, Al-Qur’anlah yang Pertama Ingin Dibawa Saat Dijemput Ambulance

Teori sangat sederhananya, udara uyang panas oleh cahaya matahari naik membawa molekul-molekul air yang menguap di dalamnya. Dan saat udara yang naik ini mencapai ketinggian 2-3 km, udara tesebut bersentuhan dengan lapisan udara dingin. Saat kenaikan udara, kristal-kristal es yang terbentuk di dalam awan melepaskan energi listrik statis yang terbentuk karena adanya pergesekan. Energi listrik ini mengandung unsur positif (+) pada lapisan atas awan dan unsur negatif (-) pada lapisan bawahnya. Dan Ketika awan cukup terisi untuk mengionisasi udara, petir pun terbentuk.

Para ilmuwan dalam penjelasannya tentang kronologi petir ini sebenarnya sudah dijabarkan dalam Alquran. Firman Allah SWT, “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung. Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS an-Nur [24]: 43).

Dalam surat itu, Allah SWT menjelaskan kronologi pembentukan petir sehingga menjadi kilatan yang hampir menghilangkan penglihatan. Dan Alquran juga memaparkan bagaimana Allah SWT menggerakkan awan sebagai pemicu terjadinya petir.

Source: republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top