Ternyata Boleh Memandang Jawan Lenis Dengan Syarat Ini

thumbnail

Melihat aurat orang lain itu hukumnya haram, baik dengan syahwat maupun tidak, kecuali jika hal itu terjadi tanpa sengaja.

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang memandang (aurat orang lain) secara tiba-tiba (tidak disengaja).” Lalu, Beliau bersabda, “Palingkanlah pandanganmu.” (HR Muslim).

Di India Umat Islam Dianiaya, Dai Kondang Dunia Dr. Zakir Naik Angkat Suara

Menurut ulama asal Mesir yang saat ini menetap di Qatar, Dr Syekh Yusuf al-Qaradhawi, telah disepakati bahwa kemaluan merupakan aurat mughalladzah (besar) haram membukanya dihadapan orang lain dan haram pula melihatnya kecuali ada dharurat seperti berobat dan lain sebagainya. Bahkan haram hukumnya menurut syara’ menutup dengan kain tipis yang bisa menampakkan bentuknya.

Menurut pendapat mayoritas fukaha, aurat laki-laki ialah antara pusar dan lutut. dan ada despensasi bagi para olahragawan dan sebagainya yang biasa mengenakan celana pendek.

Yang harus diingat kata Syekh al-Qaradhawi bahwasanya aurat laki-laki itu haram dilihat oleh perempuan ataupun sama laki-lakinya. Dan untuk bagian tubuh yang lain selain aurat, boleh dilihat selama tidak menimbulkan syahwat atau khawatir terjadi fitnah. Ini menurut pendapat yang shahih.

Amalan Ini Mendatangkan 70 Malaikat dan Jika Mati Dicatat Sebagai Syahid

Ada dua riwayat mengenai seorang perempuan melihat laki-laki.

Pertama, boleh melihatnya asal bukan pada auratnya. Kedua, tidak boleh, melainkan hanya bagian tubuh yang laki-laki boleh melihatnya. Ini merupakan pendapat yang dipilih Abu Bakar dan juga merupakan salah satu pendapat di antara dua pendapat Imam Syafii.

Hal ini berdasarkan pada riwayat az-Zuhri dari Ummu Salamah, yang berkata, “Aku pernah duduk di sebelah Nabi SAW, tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum meminta izin masuk. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Berhijablah kamu dari padanya.” Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, dia itu tunanetra.” Kemudian Beliau menjawab dengan nada bertanya, “Apakah kamu berdua (Ummu Salamah dan Maimunah) juga buta dan tidak melihatnya?” (HR Abu Daud dan lain-lain)

Lalu bagaimana hukum perempuan memandang laki-laki?

Menurut Syeikh al-Qaradhawi, boleh memandang asal tidak disertai niat untuk menikmati dan bersyahwat. Dan haram Jika menikmati pandangan tersebut dan disertai syahwat. Itulah mengapa Allah menyuruh hambanya untuk menundukkan pandangannya.

Orang Islam Boleh Bekerja Pada Non Muslim Dengan 8 Syarat Ini

Firman Allah: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS an-Nur: 30-31)

Benar, bahwa perempuan mampu mambangkitkan syahwat laki-laki lebih banyak ketimbang laki-laki membangkitkan syahwat perempuan. Dan wanitalah yang lebih banyak menarik laki-laki. Dan ada pula laki-laki yang bisa menarik pandangan wanita karena ketampanannya, kegagahannya dan lain sebagainya.

Dalam buku Fatwa-Fatwa Kontemporer Syekh al-Qaradhawi mengatakan, “Hendaknya menundukkan pandangan bagi wanita yang sedang memandang laki-laki dengan penuh nikmat dan timbul syahwat, agar terhindar dari timbulnya fitnah. Dan akan lebih berbahaya lagi jika laki-laki itu memandangnya juga dengan rasa cinta dan penuh syahwat.

Source: republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top