Pacaran Mendekatkan Pada Jodoh?

thumbnail

islamasyik.com

“Islam Itu Asyik Tapi Jangan Diusik.
Islam Itu Ramah Tapi Tidak Lemah.
Islam Itu Mudah Tapi Jangan Dimudah-mudahkan.”

Mengupas bahasan tentang jomblo, mungkin yang pertama kali ditangkap oleh akal kita adalah sebuah aprehensi sederhana mengenai “pacaran”. Ya! Anti pacar atau pacaran setelah menikah, bersama teman hidup yang halal. Term jomblo juga mengindikasikan pada sikap kontrol seseorang dalam menjaga hawa nafsunya, yakni menahan diri supaya tak mudah terperangkap oleh nestapa cinta, cinta yang tak diridhoi oleh-Nya.

Pacaran Sebagai Penghambat Jomblo

Lagi-lagi ‘’pacaran’’. Tema satu ini memang terkesan lawas, namun tak kenal ujung untuk dibahas. Rutinitas yang masih populer di kalangan remaja, yang jelas nyeleneh dari aturan syari’at yang ada, ampuh menodai hakikat makna cinta. Mengapa? Sebab mendekati pada zina. Syahdan, keislaman nan keimanan seseorang patutlah dipertanyakan, karena sewajarnya, keduanya menempati posisi zona tidak aman dalam pandangan syara’. Virus liberalismepun menjadi tersebar dimana-mana, sebab adanya ‘’pacaran islami’’ yang dianggap sudah biasa.

Perlu dimaklumi, bahwa syaitan yang terkutuk akan lebih leluasa mengelabuhi akal manusia saat hatinya terpasung oleh cinta. Karena bagaimanapun, jurus-jurus jitu syaitan lebih mudah menembus benteng keimanan seseorang kala ia sedang terpanah asmara. Maka jika seorang remaja mudah baperan, akan lebih mudah lagi untuk jatuh berpelukan dengan hati yang belum halal, bersanding status pacaran.

Wanita Sebagai Sumber Fitnah?

Berkenan tentang wanita sebagai sumber dari fitnah atau tidak, penulis ingin mengajak pembaca yang budiman, untuk lebih meneliti fakta yang ada, kemudian direlasikan dengan salah satu firman Allah yang termaktub dalam kitab-Nya :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

‘’Dijadikan terasa indah pada pandangan manusia kecintaan kepada seuatu yang diinginkannya, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).’’ (QS. Al-‘Imron : 14)

Ada dari salah satu ulama’ terkemuka, Imam Ibnu Hajar namanya, beliau berfatwa, “Allah menyebut wanita pada urutan pertama sebelum menyebut yang lainnya. Ini memberikan sinyal kuat bahwa wanita adalah induk dari segala fitnah”. Ungkapan Imam Ibnu Hajar ini searah dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid. Beliau bersabda, “Aku tidak meninggalkan satu fitnahpun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Fakta lain berbicara tentang kehancuran sekolompok umat yang hancur binasa sebab pesona seorang wanita. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah ingin mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya, jauhilah fitnah dunia dan fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita.” (HR. Muslim)

Begitu pula tentang sejarah mengenai diturunkannya Nabi Adam AS dan Siti Hawa dari surga ke bumi, lagi-lagi penyebabnya adalah wanita. Kala itu, Siti Hawa lah yang membujuk Nabi Adam AS untuk mengambil buah khuldi sebab rasa penasaran tingkat tinggi terhadap rasanya. Awalnya, Nabi Adam sama sekali tak menggubris bujukan istrinya itu. Namun, karena rasa kasihan dan cintanya yang besar, akhirnya dengan terpaksa Nabi Adam AS mengambil buah khuldi tersebut dan berujung pada kemaksiatan pada Allah.

Bagi mereka yang terbiasa dengan pacaran, mungkin akan terasa berat jika meninggalkan.  Bahkan, mungkin saja status jomblo  lebih sulit ketimbang pekerjaan tukang sapu di jalanan. Namun, apakah semua itu akan memberikan kita sebuah hak untuk menawar hukum taklif yang telah ditetapkan? “Laa taqrobuu az-zinaa”. Nahy yang terdapat dalam nash al-Qur’an ini mengandung larangan tegas tentang keharaman mendekati zina. Seharusnya, kitalah yang harus berintelek. Mendekatinya saja haram, apalagi sampai melakukan. Benar! Tak ada tawaran, tak ada keringanan. Lakin, jika benar-benar hajran jamila (hijrah yang sesungguhnya) alias spirit of hijrahnya terjamin, syahdan hal itu akan memberi peluang terbukanya pintu hati ke arah sirathal mustaqim.

Niatkan jomblo dengan jihad fisabilillah. Jihad di jalan Allah dengan mengharap ridho-Nya. Jihad melawan hawa nafsu yang bisa menyebabkan maksiat kepada-Nya. Sesungguhnya jihad melawan nafsu diri sendiri adalah yang paling berat. (Al-Hadits)

Para pembaca yang budiman, cukuplah Qais dan Layla yang merasakan gilanya mencinta.Jika memang cinta, datanglah ke rumahnya, pintalah kepada kedua orang tuanya. Jangan sampai tersandung oleh restunya. Jangan sampai bertemu dengan sebuah pilihan simalakama, yakni antara dirinya atau orang tua. Sungguh, dilema itu hanya akan membuat diri tersiksa. Percayalah, jika memang jodoh maka takkan pergi kemana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top